3 Hari yang lalu Dedy Corbuzier mengeshare soundcloud nya melalui akun twitternya yang berjudul "Pentingkah Sekolah??" kemudian aku buka dan dia menceritakan sepengalamanya ketika iya menjelaskan tentang ini di seminarnya, banyak guru yang ga setuju dengan beliau karena dianggap pro murid. Beliau mengatakan Masa depan itu bukan dari sekolah NAMUN dia tidak mengatakan kalau sekolah itu tidak penting dan jangan sampai kita ga sekolah akan tetapi ada yang salah dari sistem atau sekolah itu sendiri, kemudian dia menjelaskan masa depan itu bagaimana kita bersosialisasi dengan apa yang kita sukai melalui berbagai sumber, Sekolah itu hanya mengajarkan murid untuk menjadi guru misalnya Guru matematika ingin muridnya pintar matematika, guru sejarah ingin muridnya pintar sejarah dan begitu juga guru-guru lainnya. Anehnya, ketika kita mengambil guru matematika kemudian kita test dengan soal geografi berani yakin dia tdak bisa melakukan test tersebut, kalau begini adanya lantas kenapa murid dipaksa untuk bernilai baik pada semua mata pelajaran?? kalau gurunya hanya expert pada satu mata pelajaran, kenapa murid dituntut untuk semua pelajaran dan dituntut untuk bernilai tinggi pula. namun ketika kita dewasa, kita sama sekali ga akan menyentuh semua mata pelajaran ini karena kita sesuai potensi, pada dasarnya manusia itu ga ada yg sempurna. Dulu ketika beliau SMA, beliau dikatakan sama guru akutansi karena akutansinya kurang bagus, kemudian ibu mengatakan "Kalau akuntasi kamu jelek ded, kamu ga akan sukses!" "oya??" lanjut Dedy, ternyata dia bisa sukses dan bahkan dia bisa membayar akuntan untuk berkerja bersama beliau. sekarang begini sajalah, apasih yang bisa berubah?? Sistem atau Sekolahnya?? Kenapa ga dari dulu ketika masih kecil, kita liat potensi anak ini dimana nah kita kembangkan, ga harus dipaksakan kesemua mata pelajaran toh si anak banyak ga expert pada semua mata pelajarn. kalau si anak lebih suka matematika, masukan ke kelas matematika agar lebih banyak. kemudia dia berpesan kepada orang tua untuk lebih mengembangkan potensi anak dan ga memaksakan anak untuk apa yang tidak suka. Misalnya, ketika anak bernilai rendah pada matematika kemudia bernilai tinggi pada seni, lantas kenapa orang tua me les kan Matematika?? padahal potensi anak itu di seni, Beliau mengatakan justru ini mematikan potensi si anak karena hanya mengejar pelajaran yang tidak ia sukai, karena pelajaran yang bukan potensi nya ini bisa dibantu dengan nilai secukupnya ga harus 10, ga harus 90, tapi secukupnya. karena masa depan anak bukan dari Nilai, anda rangking 1 di sekolah bukan berarti anda sukses jika dewasa kelak, justru masa depan itu bagaimana kita bersosialisasi dan menambah pengetahuan dengan apa yang kita sukai dari berbagai sumber mau itu internet, buku, majalah dan lain lain. Lanjut Beliau, ia mengatakan ia punya teman dulu ketika ia masih sekolah, nilai sekolahnya jelek karena suka main games, namun sekrang dia menjadi sukses kaya raya dengan memiliki toko games no 1 Di indonesia, jadi masa depan itu bukan dari nilai raport dan jangan takut mendapat nilai merah karena masa depan itu DI TANGAN KITA SENDIRI..

Sekian blogger, Selamat siang ya!!